zetizen

Membangun budaya demokrasi di sekolah melalui pengalaman sila keempat Pancasila

Opini
Mengajarkan demokrasi di dalam kelas

Zetizen - Sekolah merupakan tempat strategis dalam membentuk karakter dan kepribadian peserta didik sebagai warganegara yang demokratis. Melalui proses pendidikan, siswa tidak hanya memperoleh pengetahuan akademik, tetapi juga nilai-nilai moral, sosial, dan kebangsaan yang menjadi dasar kehidupan bermasyarakat.

Salah satu nilai penting yang harus ditanamkan sejak dini adalah nilai demokrasi, yang mencerminkan penghargaan terhadap perbedaan pendapat, musyawarah, dan keadilan.

Dalam konteks Pancasila, nilai demokrasi tercermin dalam sila keempat, yaitu “Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan dan perwakilan.”

Sila ini mengajarkan pentingnya partisipasi setiap individu dalam pengambilan keputusan, sikap menghargai pendapat orang lain, serta menjunjung tinggi musyawarah untuk mencapai mufakat.

Membangun budaya demokrasi di sekolah melalui pengamalan sila keempat berarti menumbuhkan lingkungan belajar yang terbuka, partisipatif, dan berkeadilan. Guru dan siswa berperan aktif dalam menciptakan suasana saling menghormati, menghargai perbedaan, serta mengutamakan dialog dalam menyelesaikan permasalahan.

Dengan demikian, sekolah menjadi miniatur masyarakat demokratis yang menyiapkan generasi muda agar mampu berperan secara bertanggung jawab dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara.

Penerapan sila keempat Pancasila di sekolah dapat diwujudkan melalui berbagai kegiatan yang menumbuhkan partisipasi aktif siswa. Nilai-nilai seperti musyawarah, keterbukaan, dan tanggung jawab bersama menjadi inti dari budaya demokrasi di sekolah.

Pembelajaran demokrasi yang berbasis Pancasila membantu membentuk kepribadian siswa agar memiliki kecerdasan moral, sosial, dan emosional dalam menghadapi perbedaan pandangan.

Kegiatan seperti musyawarah kelas, diskusi kelompok, forum aspirasi siswa, dan pemilihan pengurus organisasi pelajar merupakan bentuk konkret penerapan demokrasi. Melalui kegiatan tersebut, siswa dilatih untuk berani mengemukakan pendapat, mendengarkan pandangan orang lain, serta menerima keputusan bersama secara bijak.

Hal ini masuk kedalam Sila Keempat Pancasila menekankan pentingnya musyawarah dan kebijaksanaan  dalam  pengambilan  keputusan yang  melibatkan  perwakilan  rakyat,  dengan lambang  banteng  yang  menguatkan  nilai-nilai kebersamaan dan kekuatan dalam kerakyatan.

Banteng  adalah  hewan  sosial  yang  kuat  dan sering    berkelompok    atau    berkumpul. Ini menggambarkan    bahwa    masyarakat    harus bermusyawarah atau berdiskusi    bersama dalam  mengambil  keputusan. Saputra, dkk (2024:10300).

Selain itu, budaya demokrasi di sekolah juga dapat ditumbuhkan melalui pembelajaran yang partisipatif. Guru berperan sebagai fasilitator yang memberikan ruang dialog terbuka di kelas, untuk membuat siswa melakukan proses belajar yang demokratis dan membantu siswa mengembangkan karakter kebangsaan, menghargai perbedaan, dan berpikir kritis dalam menilai setiap persoalan.

Penerapan metode diskusi, debat edukatif, dan pemecahan masalah bersama (problem solving) juga mencerminkan nilai kebijaksanaan dalam pengambilan keputusan.

Namun, membangun budaya demokrasi di sekolah tidak lepas dari tantangan. Beberapa di antaranya adalah masih adanya pola komunikasi yang bersifat satu arah antara guru dan siswa, keterbatasan pengetahuan guru tentang pendidikan demokrasi, serta minimnya pelatihan yang menekankan penerapan nilai Pancasila dalam praktik pembelajaran. Sijabat et al. (2024:1-8).

Menjelaskan bahwa tantangan tersebut menuntut perubahan paradigma dari pola otoriter ke pola partisipatif, di mana setiap warga sekolah diberi ruang untuk berpendapat dan berkontribusi. Oleh karena itu, penerapan sila keempat tidak hanya menjadi simbol dalam pembelajaran, tetapi juga menjadi budaya hidup yang melekat di lingkungan sekolah.

Halaman: